Tampilkan postingan dengan label Best Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Best Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Juli 2011

Bermain Aman

Ada seoran teman bertanya kepadaku kemarin...Sebetulnya Tuhan itu ada gak sih? Buat apa kita beragama? Untuk apa kita hidup? Apakah akan ada kehidupan setelah mati (reinkarnasi)? Kenapa kita harus meyakini suatu aliaran agama tertentu? Atau kenapa Tuhan menciptakan bamyak keyakinan jika Tuhan ingin disembah dengan 1 cara?

mungkin tidak jarang atau pernah terlintas pertanyaan-pertanyaan serupa di benak teman-temans semua. Hanya saja ada yang berani mengungkapkannya langsung pada ahlinya, ada yang mencari tahu sendiri melalui berbagai media, atau hanya diam saja dalam kebingungan. yang manakah kalian diantaranya?

aku tahu aku bukan ahlinya tentang ilmu ketuhanan dan tentang keyakinan beragama. aku tahu ilmuku masih sangat dangkal untuk menjawab hal itu secara ilmiah atau teoritis, tapi aku punya jawaban sederhana yang masuk akal yang semua kalangan dapat memahaminya. jawaban itu kuberi kunci "bermain aman".

baiklah, akan kujelaskan tentang konsep "bermain aman" milikku. pada dasarnya aku memang tidak tahu Tuhan itu ada atau tidak? dan seperti apa rupaNya? aku memang tidak mengerti tujuan kita hidup di dunia ini untuk apa dan mengapa kita harus meyakini suatu aliran agama tertentu? atau apakah reinkarnasi setelah mati itu benar-benar terjadi atau kemudian pada akhirnya kan mengarah pada surga dan neraka? sungguh, aku bukan ahlinya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan diluar logika itu. aku hanyalah mahasiswa biasa yang mencoba menjawab pertanyaan ini sesuai dengan ilmu yang kupunya dan pengalaman hidupku yang masih dangkal.

sampai saat ini, aku masih beragama sesuai ajaran orang tuaku dan meyakini Tuhan itu ada walaupun aku tidak tau seperti apa rupanya. aku masih beribadah dalam hidupku untuk mempersiapkan bekalku setelah mati, ketika reinkarnasi itu datang dan aku tetap berpegang teguh bahwa semua itu ada dan akan terjadi kelak. itulah pilihanku, karena kalaupun hal itu tidak ada, maka apa yang telah kulakukan sekarang ini tidak akan menjadi sesuatu yang merugikan kelak tapi akan menjadi pengalaman hidupku yang berarti. tapi bagaimana jika semua hal yang dipertanyaka itu memang ada dan benar-benar terjadi? jika itu terjadi padaku, maka aku tidak akan menyesal karena semua yang telah kulakukan semasa hidup yang singkat itu, aku telah melakukan perintah Tuhan dan mendalami ajaran Tuhan. selanjutnya bagaimana tuhan akan menenpatkanku di surga atau nereka dengan pilihanku kini? seandainya aku tidak berbuat apa-apa dan bersikukuh pada yang tidak ada, apa jadinya nanti jika hal itu benar-benar nyata?

hidup itu pilihan kawan, kelak mungkin akan ada surga atau neraka pada akhirnya, atau mungkin tidak ada sama sekali...hadapilah kehidupan setelah kematianmu kawan dengan pilihan-pilihan hidupmu sekarang.
dan ini pilihan hidupku dengan "bermain aman" dari semua kemungkinan itu yang tidak ada seorangpun bisa membuktikannya dengan logika.



Salam,
Pencari Tuhan

Minggu, 26 Desember 2010

Inilah Wanita Yang Sebenarnya di Mata Islam




Tulisan ini menggambarkan pertanyaan dalam benak setiap wanita di zaman sekarang ini. Kaum feminis bilang susah jadi wanita, lihat saja peraturan dibawah ini:


1. Wanita : Auratnya lebih susah dijaga (lebih banyak) dibanding lelaki.

2. Wanita : Perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah tetapi tidak sebaliknya.

3. Wanita : Saksinya (apabila menjadi saksi) kurang berbanding lelaki.

4. Wanita : Menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki.

5. Wanita : Perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.

6. Wanita : Wajib taat kepada suaminya, sementara suami tak perlu taat pada isterinya.

7. Wanita : Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.

8. Wanita : Kurang dalam beribadat karena adanya masalah haid dan nifas yang tak ada pada lelaki.


Itu sebabnya,
Mereka tidak henti-hentinya berpromosi untuk "MEMERDEKAKAN WANITA".


Tapi, pernahkah kita lihat sebaliknya (kenyataannya) ?


1. Wanita : Ibarat Benda yang mahal harganya akan dijaga dan dibelai serta disimpan ditempat yang teraman dan terbaik,sudah pasti intan permata tidak akan dibiar terserak bukan?Itulah bandingannya dengan seorang WANITA.

2. Wanita : perlu taat kepada suami, tetapi tahukah lelaki wajib taat kepada ibunya 3 kalilebih utama daripada kepada bapaknya?

3. Wanita : menerima warisan lebih sedikit daripada lelaki, tetapi tahukah harta itu menjadi milik pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, sementara apabila lelaki menerima warisan,ia perlu/wajib juga menggunakan hartanya untuk isteri dan anak-anak.

4. Wanita : perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak,tetapi tahukah bahwa setiap saat dia didoakan olehsegala makhluk, malaikat dan seluruh makhluk ALLAH di muka bumi ini, dan tahukah jika ia mati karena melahirkan adalah syahid dan surga menantinya.

5. Wanita : Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabkan terhadap 4 wanita, yaitu :
Isterinya, ibunya, anak perempuannya dan saudara perempuannya.
Artinya, bagi seorang wanita tanggung jawab terhadapnya ditanggung oleh 4 orang lelaki,yaitu :
suaminya, ayahnya, anak lelakinya dan saudara lelakinya.

6. Wanita : Seorang wanita boleh memasuki pintu syurga melalui pintu surga yang mana saja yangdisukainya, cukup dengan 4 syarat saja,yaitu: Sholat 5 waktu, puasa di bulan Ramadhan, taat kepada suaminya dan menjaga kehormatannya.

7. Wanita : Seorang Lelaki, wajib berjihad fisabilillah, sementara bagi wanita jika taat akan suaminya, serta menunaikan tanggungjawabnya kepada ALLAH, maka ia akan turut menerima pahala setara seperti pahala orang pergi berjihad fi sabilillah.


Demikian sayangnya ALLAH pada wanita... dan
Yakinlah,
Bahwa sebagai dzat yang Maha Pencipta, yang menciptakan kita, maka sudah pasti Ia yang Maha Tahu akan manusia.
Jagalah isterimu karena dia perhiasan, pakaian dan ladangmu, sebagaimana Rasulullah pernah mengajarkan agar kita (kaum lelaki) berbuat baik selalu (gently) terhadap isterimu.


Adalah sabda Rasulullah bahwa ketika kita memiliki dua atau lebih
anak perempuan, mampu menjaga dan mengantarkannya menjadi muslimah yang baik,
maka surga adalah jaminannya. (untuk anak laki2 berlaku kaidah yang berbeda).


Berbahagialah wahai para muslimah! Jangan risau hanya untuk apresiasi absurd dan semu di dunia ini. Tunaikan dan tegakkan kewajiban Agamamu, niscaya surga menantimu... Amin















Salam,
Pencari Tuhan

Sabtu, 18 Desember 2010

Kisah Bocah Amerika Masuk Islam


Rasulullah saw bersabda: "Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi." (HR. Bukhari)

Kisah bocah Amerika ini tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas.

Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun.


Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar'i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan.

Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya yaitu Muhammad 'Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah saw yang dia cintai sejak masih kecil.


Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu, "Apakah engkau seorang yang hafal Al Quran ?"

Wartawan itu berkata: "Tidak". Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya.

Bocah itu kembali berkata , "Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian ?". Dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan. "Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji ? Apakah engkau telah menunaikan 'umrah ? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram ? Apakah pakaian ihram tersebut mahal ? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja ? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami ?"


Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan adzan sebelum dia sholat. Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, "Terkadang aku kehilangan sebagian sholat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu sholat."

Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, "Apa yang membuatmu tertarik pada Islam ? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja ?" Dia diam sesaat kemudian menjawab.

Bocah itu diam sesaat dan kemudian menjawab, "Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku".

Wartawab bertanya kembali, "Apakah engkau telah puasa Ramadhan ?"

Muhammad tersenyum sambil menjawab, "Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama". Kemudian dia meneruskan : "Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut".

"Apakah cita-citamu ?" tanya wartawan


Dengan cepat Muhammad menjawab, "Aku memiliki banyak cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah dan mencium Hajar Aswad".

"Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut ?" tanya wartawan lagi.

Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata : "Sesungguhnya gambar Ka'bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain".


Tampaklah senyuman di wajah Muhammad 'Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka'bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.

Kemudian Muhammad meneruskan, "Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap minggunya agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah pada suatu hari. Aku telah mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar."


Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, "Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini."

"Apakah cita-citamu yang lain ?" tanya wartawan.


"Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka." jawab Muhammad

Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.

Muhammad berkata, "Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina."

"Apakah engkau mempunyai cita-cita lain ?" tanya wartawan lagi.


Muhammad menjawab, "Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al Quran."

"Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam ?" tanya wartawan

Maka dia menjawab dengan meyakinkan : "Tentu"

"Apakah engkau mendapati kesulitan dalam masalah makanan ? Bagaimana engkau menghindari daging babi ?"

Muhammad menjawab, "Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi."

"Apakah engkau sholat di sekolahan ?"

"Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat di sana setiap hari" jawab Muhammad


Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan,"Apakah engkau mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan ?"

Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan adzan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan adzan.

sumber :http://www.kaskus.us/showthread.php?t=5160271%EF%BB%BF


Salam,
Pencari Tuhan

Sabtu, 27 November 2010

7 KALIMAT ALLAH

Sabda Rasulullah S.A.W.: " Barang siapa hafal tujuh kalimat, ia terpandang mulia di sisi Allah dan Malaikat serta diampuni dosa-dosanya walau sebanyak buih laut "

1. Mengucap "Bismillah" pada tiap-tiap hendak melakukan sesuatu.
2. Mengucap "Alhamdulillah" pada tiap-tiap selesai melakukan sesuatu.
3. Mengucap "Astaghfirullah" jika lidah terselip perkataan yang tidak patut.
4. Mengucap "Insya-Allah" jika merencanakan berbuat sesuatu dihari esok
5. Mengucap "La haula wala kuwwata illa billah" jika menghadapi sesuatu tak disukai dan tak diinginkan.
6. Mengucap “Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun” jika menghadapi dan menerima musibah
7. Mengucap "La ila ha illa Allah muhammad rasulullah" sepanjang siang dan malam, sehingga tak terpisah dari lidahnya


salam,
Pencari Tuhan

Jilbab Wanita Muslimah

1. MELIPUTI SELURUH BADAN SELAIN YANG DIKECUALIKAN
(surat An-Nuur : 31 & surat Al-Ahzab : 59)
2. BUKAN BERFUNGSI SEBAGAI PERHIASAN
(An-Nuur ayat 31 & Al-Ahzab ayat 33)
3. KAINNYA HARUS TEBAL/TIDAK TIPIS
(Rasulullah telah bersabda :"Pada akhir umatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakain namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti terdapat bongkol (punuk) unta. Kutuklah mereka karena sebenarnya mereka adalah kaum wanita yang terkutuk." Di dalam hadits lain terdapat tambahan: "Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan mencium baunya, padahal baunya surga itu dapat dicium dari perjalanan sekian dan sekian.")
4. HARUS LONGGAR/TIDAK KETAT SEHINGGA TIDAK DAPAT MENGGAMBARKAN SESUATU DARI TUBUHNYA
(Usamah bin Zaid pernah berkata : Rasulullah pernah memberiku baju Quthbiyah yang tebal yang merupakan baju yang dihadiahkan oleh Dihyah Al-Kalbi kepada beliau. Baju itu pun aku pakaikan pada istriku. Nabi bertanya kepadaku :"Mengapa kamu tidak mengenakan baju Quthbiyah ?" Aku menjawab:Aku pakaiakan baju itu pada istriku. Nabi lalu bersabda:"Perintahkan ia agar mengenakan baju dalam di balik Quthbiyah itu, karena saya khawatir baju itu masih bisa menggambarkan bentuk tulangnya." ; Aisyah pernah berkata :Seorang wanita dalam shalat harus mengenakan tiga pakaian, Baju, jilbab dan khimar. Adalah Aisyah pernah mengulurkan izar-nya (pakaian sejenis jubah) dan berjilbab dengannya.Pendapat yang senada juga dikatakan oleh Ibnu Umar :Jika seorang wanita menunaikan shalat, maka ia harus mengenakan seluruh pakainnya:Baju, khimar dan milhafah (mantel).
5. TIDAK DIBERI WEWANGIAN ATAU PARFUM
(Rasulullah bersabda:"Siapapun wanita yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina.")
6. TIDAK MENYERUPAI PAKAIAN LAKI-LAKI
(Dari Abu Hurairah berkata:Rasulullah melaknat pria yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian pria)
7. TIDAK MENYERUPAI PAKAIAN WANITA-WANITA KAFIR
(surat Al-Hadid :16,An-Nisa ayat 46 & Al-Mujadalah : 22)
8. BUKAN PAKAIAN UNTUK MENCARI POPULARITAS (PAKAIAN KEBESARAN)
(Berdasarkan hadits Ibnu Umar yang berkata :Rasulullah bersabda :"Barangsiapa mengenakan pakaian (libas) syuhrah di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.")

Kesimpulannya adalah :
Hendaklah menutup seluruh badannya, kecuali wajah dan dua telapak dengan perincian sebagaimana yang telah dikemukakan, jilbab bukan merupakan perhiasan, tidak tipis, tidak ketat sehingga menampakkan bentuk tubuh, tidak disemprot parfum, tidak menyerupai pakaian kaum pria atau pakaian wanita-wanita kafir dan bukan merupakan pakaian untuk mencari popularitas.


Salam,
Pencari Tuhan

ada yang harus di pertanyakan???

assalamualaikum...
ada aktifis kristen bertanya kepada "saya"...

apakah bener kalau kehidupan syurga menurut islam seperti itu???? Makanan yang di dunia diharamkan, jadi halal kalo di syurga???? seperti minuman keras misalnya.....Terus (Maaf) apakah disana berhubungan suami istri masis berlaku???? Katanya,,,kaum laki-laki tidak akan merasa lemah melayani bidadari-bidadari???? Terus nasib kaum perempuan seperti apa di syurga???? Soalnya gak ada disebutkan kehidupan perempuan di syurga seperti apa…. Apakah kaum perempuan di kasih bidadara???? Terus apakah kita semua ketika di syurga akan bertemu dengan keluarga kita di sana????ada gak ayat di Alquran tentang itu???

menurut agama kristen ada ayat ayat di alkitab yang menceritakan tentang kehidupan setelah kiamat :
Matius 22
22:30 Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga.

Markus 12
12:25 Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga.

Lukas 20
20:36 Sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat dan mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan.

Itu kehidupan di syurga yang dia dan pengikut kristus (Isa Almasih) yakini….


Satu lagi… ini tentang nabi Muhammad…. Apa mu’jizat nabi Muhammad???? Katanya di Alquran gak ada yang jelasin tentang mu’jizat nabi Muhammad…. Bener gak sih???malah banyak menceritakan tentang kebenaran Yesus…. apa iya???

ini adalah pertanyaan yang "saya dpt dari narasumber yang terpercaya...di mohon bantuannya bagi teman2 yang bisa menjawab pertanyaan di atas...dan tidak ada maksud saling menjatuhkan agama di sini...hanya sekedar bertukar informasi dan mencari kejelasan serta kebenaran yang sesungghnya...


salam,
pencari tuhan

Bukan Untuk Diperdebatkan..!!!

Kata"Allah" Bukan Hanya Di Ucapkan Oleh Orang Islam Saja

PROLOG:

"...Pada Konsili Efesus (431) wilayah suku Arab Harits dipimpin uskup bernama `Abd Allah' (Hamba Allah). Inskripsi Zabad (512)v iawali `Bism al-Ilah' (Dalam nama Allah) lengkap dengan tanda salib diikuti nama-nama Kristen, demikian juga Inskripsi `Umm al-Jimmal' (abad-6) menyebut `Allahu ghafran' (Allah yang mengampuni). Inskripsi `Hurran al-Lajja' (568) dan inskripsi lain pra'Islam' dari lingkungan Kristen menggunakan nama Allah pula. Jadi, umat Yahudi & Kristen berbahasa Arab sudah menggunakan nama `Allah' jauh sebelum kelahiran agama Islam, dan ucapan Bismillah sudah digunakan oleh orang Yahudi berbahasa Arab, lama sebelum ada Islam bahkan pada abad-5sM sudah ditulis Ezra dalam kitabnya, dan tentu saja orang Kristen berbahasa Arab sejak abad-1 juga sudah menggunakannya. Rupanya, karena ucapan `bismillah' sudah umum diucapkan oleh umat Yahudi dan Kristen berbahasa Arab sebelum hadiran agama Islam, waktu penulisan Al-Quran, ucapan itu digunakan sebagai pembuka setiap Surat/surah. .."

PENJELASAN:

1. BISMILLAH

Pada kesempatan tanya jawab pada acara ceramah soal `Nama Allah' baru-baru ini, ada peserta yang bertanya: "Bolehkah umat kristen mengucapkan Bismillah? Soalnya, bukankah itu ucapannya orang Arab dan Islam?" (Bismillah dalam bahasa Indonesia adalah `Dalam Nama Allah'). Pertanyaan ini timbul dilatar belakangi kekurang-tahuan yang dicampur adukkan dengan prasangka dan sikap alergi terhadap semua yang berbau Arab dan Islam, seakan-akan yang Arab itu pasti Islam dan yang Islam itu pasti Arab. Kerancuan berfikir demikian seharusnya hilang dari pemikiran karena Arab tidak identik dengan Islam, dan orang Arab yang beragama Yahudi dan Kristen sudah jauh ada sebelum adanya agama Islam, dan bahasa Arab sudah hadir di Timur Tengah jauh sebelum penulisan Al-Quran.

Dalam Alkitab Perjanjian Lama, di masa Raja Salomo sudah disebutkan adanya raja-raja Arab(1Raj.10:15). Dalam kitab Yesaya orang Arab sebagai pengembara yang berkemah (nomad, yes.13:20), Arabia disebutkan dalam Yes.21:13, dan Yeremia menyebut orang Arab yang di padang gurun (Yer.3:2). Dalam Perjanjian Baru sudah disebutkan bahwa ada orang Arab hadir dalam peristiwa di hari Pentakosta dan mendengar kotbah Petrus dalam bahasa Arab (Kis.2:11), demikian juga rasul
Paulus dalam pertobatannya pergi ke tanah Arab dan Siria (Gal.1:17) dan Hagar (Ibu dari Ismael yang adalah salah satu jalur nenek-moyang Arab) disebut sebagai gunung Sinai di tanah Arab (Gal.4:25). Semua yang disebutkan disini terjadi jauh sebelum kehadiran agama Islam di abad-7M.

Pada konsili-konsili awal Gereja Kristen mula-mula, sudah ada wakil orang Arab beragama Kristen dan beberapa uskup berbangsa Arab hadir disitu. Di tahun 225 terdapat keuskupan di Beth-Katraye di wilayah Quatar. Kekristenan mengalir ke suku-suku Himyar, Ghasan, Taglib, Tanukh, Tayy dan Quda'a, jauh sebelum kedatangan agama Islam. Seorang ratu Arab, Maria namanya, beragama Kristen. Dia pernah mengundang uskup Musa untuk tinggal di tengah bangsanya (Anton Wessels, Arab dan
Kristen, BPK-GM, 2002, hlm.33, dikutip dari Azis A. Atiya, A History of Eastern Christianity, London, 1968, hlm.258).

Sekarang bagaimana dengan ucapan Bismillah yang artinya `Dalam Nama Allah' itu? Nama Allah itu nama Tuhan siapa dan yang mana? Tuhan orang Arab atau juga Allah orang Yahudi dan Kristen dalam bahasa
Arab?

Menarik untuk diketahui bahwa dalam Tenakh Yahudi, kata `Alaah' (hla,alef-lamed-he) bisa berarti `sumpah' (1Raj.8:31;2Taw.6:22) tetapi juga menjadi kata dasar dari kata `Eloah' dan `Elohim'. Fakta
menunjukkan juga bahwa kata `Alaah' (hla) dalam kitab Ezra 5:1 sekalipun ditulis dalam aksara Ibrani dimengerti dalam bahasa Aram sebagai `Alaah' yang artinya sama dengan El/Elohim/Eloah Ibrani (ayat
itu berbunyi `Bashum Alaah Yisraeel' - Dalam Nama Allah I5ra3l. Dalam Ezr.6:14 juga ditemukan kalimat `Alaah Yisraeel' ? lihat Interlinear Bible dalam PC Study Bible. Bandingkan ini dengan `Elohe Yisrael').
Perlu diketahui bahwa dalam Tenakh (PL) sebagian kitab Ezra (4:8 ?6:18;7:12-26), Daniel (2:4b ? 7:28), dan Yeremia (10:11) ditulis dalam bahasa Aram tetapi dengan aksara Ibrani.

Jadi nama Allah itu sudah lama dipakai dikalangan I5ra3l yang berbahasa Aram dimana Ezra menuliskannya dalam suratnya, dan ucapan `Bashum Alaah' (Ezr.5:1) dalam bahasa Aram yang dalam bahasa Arab menjadi `Bismillah' sudah lama digunakan oleh orang Yahudi jauh sebelum ada agama Islam. Kita tahu bahwa bahasa Aram itu salah satu nenek-moyang bahasa Arab.

Kelompok Pemuja Nama Yahweh yang sangat alergi nama `Allah' dalam `Kitab Suci Taurat dan Injil' menerjemahkan Ezr.5:1;6:14 (Alaah Yisraeel) sebagai `Eloim I5ra3l' dan dalam `Kitab Suci Umat
Perjanjian Tuhan' menerjemahkannya sebagai `Tuhan I5ra3l.' Jadi, dalam konteks ayat-ayat Ezr.5:1;6:14, sebenarnya para pemuja nama Yahweh dalam kedua Kitab Suci itu mengakui juga bahwa `Allah adalah Eloim dan Tuhan I5ra3ll.'

Pada Konsili Efesus (431) wilayah suku Arab Harits dipimpin uskup bernama `Abd Allah' (Hamba Allah). Inskripsi Zabad (512) diawali `Bism al-Ilah' (Dalam nama Allah) lengkap dengan tanda salib
diikuti nama-nama Kristen, demikian juga Inskripsi `Umm al-Jimmal' (abad-6) menyebut `Allahu ghafran' (Allah yang mengampuni). Inskripsi `Hurran al-Lajja' (568) dan inskripsi lain pra'Islam' dari lingkungan Kristen menggunakan nama Allah pula. Jadi, umat Yahudi & Kristen berbahasa Arab sudah menggunakan nama `Allah' jauh sebelum kelahiran agama Islam, dan ucapan Bismillah sudah digunakan oleh
orang Yahudi berbahasa Arab, lama sebelum ada Islam bahkan pada abad-5sM sudah ditulis Ezra dalam kitabnya, dan tentu saja orang Kristen berbahasa Arab sejak abad-1 juga sudah menggunakannya. Rupanya, karena ucapan `bismillah' sudah umum diucapkan oleh umat Yahudi dan Kristen berbahasa Arab sebelum kehadiran agama Islam, waktu penulisan Al-Quran, ucapan itu digunakan sebagai pembuka setiap Surat/surah.

Dari hal di atas kita tahu bahwa nama Ilah/Allah dalam bahasa Arab adalah padanan nama `El/Elohim/Eloah' bahasa Ibrani dan `Alah/Alaha/Elah/Elaha' dalam bahasa Aram Siria (kata sandang
definitif `ha' dalam bahasa Ibrani tidak biasa digunakan bila menunjuk pada El/Eloah/Elohim), dan ucapan Bismillah sekedar ucapan peneguh iman `Dalam Nama Allah.'

Kita harus sadar adanya kenyataan bahwa sekarang ada 4 (empat) versi Alkitab dalam bahasa Arab yang digunakan umat Kristen berbahasa Arab dan ke-empatnya menggunakan `nama Allah,' dan dalam keempat versi itu, Ezr.5:1 ditulis `Bismillah' juga. Itu tidak berarti bahwa Alkitab bahasa Arab meniru ucapan dalam Alquran (Dalam Al-Quran ucapan `Bismillah' menjadi pembuka setiap surat), karena sudah
terbukti umat Yahudi dan Kristen berbahasa Aram/Arab sudah jauh sebelum Islam menggunakan nama dan ucapan itu. Saat ini bangsa Arab yang beragama Kristen jumlahnya sekitar 10 juta orang dan semuanya menggunakan `nama Allah' dan mengucapkan `Bismillah' juga!

Berdasarkan hal ini, pertanyaan peserta yang disebutkan di awal artikel ini bisa dijawab bahwa tidak ada salahnya kalau kita mengucapkan kata `Bismillah' (dengan pengertian Alaah Yisraeel) kalau berhadapan dengan orang Arab atau yang beragama Islam, dan kalau kita ditanya mengapa menggunakan ucapan itu, kita dapat menjawab bahwa dalam Alkitab Perjanjian Lama sudah tertulis ucapan itu dalam dialek
Aram yaitu `Bashum Alaah' (Ezr.5:1, abad-6sM), 13 abad sebelum Al-Quran ditulis, Satu abad sebelum agama Islam lahir, Inskripsi Zabad dari kalangan Kristen Arab sudah menuliskan `Bism al-ilah' yang
menunjukkan bahwa secara lisan ucapan itu sudah dipakai oleh umat Yahudi dan Kristen yang berbahasa Arab jauh sebelum digunakan dalam Al-Quran.

2. DEFINISI TUHAN

Demi untuk memudahkan pengkajian, sebaiknya kita mulai dengan memberikan definisi tuhan, supaya pengertian kita sama. Tentu definisi yang paling tepat ialah yang diambil dari pemahaman akan pengertian tuhan menurut yang dijabarkan di dalam al-Qur'an. Untuk itu, perlu kita sadari dua penyataan terpenting, yang pasti akan kita peroleh apabila kita kaji dengan sungguh-sungguh kandungan al-Qur'an.

Kenyataan pertama ialah, di dalam al-Qur'an kita tidak pernah menemukan suatu ayat pun yang membicarakan atheist atau atheisme. Suatu hal yang kiranya sangat penting kita fikirkan mengingat kenyataan di zaman modern ini jutaan manusia telah menyatakan diri mereka sebagai "atheist" atau "orang yang tidak bertuhan".Setiap orang yang berideologi komunis mengaku, bahwa mereka tidak bertuhan (atheist). Mendiang Chou Eng Lai, perdana menteri RRC, pernah berpidato di alun-alun Bandung, ketika ia berkunjung ke sana semasa konperensi Asia-Afrika dahulu (1955) dengan bangga
mengatakan, bahwa mereka sebagai komunis dengan sendirinya tidak bertuhan. Kalau kita jumlahkan rakyat RRC dengan Rusia ditambah dengan semua negara satelit-satelitnya yang menganut faham komunis, maka kira-kira sepertiga penduduk dunia sekarang ini adalah atheist, jika yang dikatakan bekas perdana menteri Cina itu benar.

Sungguh suatu tanda tanya besar bagi setiap Muslim, yang yakin akan kesempurnaan kitab sucinya. Mungkinkah Allah telah "lupa" menyebutkan kenyataan ini, sehingga al-Qur'an tidak menyebut sama sekali akan atheist dan atheisme ini. Akibatnya, ialah kamus bahasa 'Arab sama sekali tidak mengenal istilah atheist itu. Memang, orang-orang 'Arab modern sekarang ini mempergunakan perkataan "mulhid" untuk "atheist", dan "ilhad" untuk atheisme, namun kalau kita selidiki di dalam al-Qur'an perkataan "mulhid dan ilhad" artinya sangat jauh dari "atheist dan atheisme". Perkataan "ilhad" berasal dari kata "lahada" yang artinya "menggali lobang atau terjerumus ke dalam lobang galian". Ingat, dalam
bahasa Indonesia pun kita mengenal "liang lahad", yang berasal dari kata Arab "lahada" ini. "Mulhid" dalam al-Qur'an artinya kira-kira "orang yang terjerumus di dalam kesesatan", jadi tidak ada ubungannya dengan arti harfiah dari atheist.

Kenyataan kedua ialah, perkataan "ilah", yang selalu diterjemahkan "tuhan". Di dalam al-Qur'an dipakai
untuk menyatakan berbagai objek, yang dibesarkan atau dipentingkan manusia. Misalnya, di dalam ayat Q. 45:23 dan Q.25:43.
"Tidakkah kamu perhatikan betapa manusia meng-ilahkan keinginan-keinginan pribadi mereka .?"
Dalam ayat Q. 28:38, perkataan "ilah" dipakai oleh Fir'aun untuk dirinya sendiri:
"Dan Fir'aun berkata: 'Wahai para pembesar, aku tidak menyangka, bahwa kalian masih punya ilah selain
diriku'."
Dari contoh ayat-ayat tersebut di atas, ternyata perkataan "ilah" bisa mengandung arti berbagai benda,
baik abstrak (nafsu atau keinginan pribadi) maupun benda nyata (Fir'aun atau raja, atau penguasa yang
dipatuhi dan dipuja). Dari dua kenyataan di atas dapatlah diambil kesimpulan sebagai berikut: Tidak adanya perkataan atheist dan atheisme di dalam al-Qur'an membuktikan, bahwa tidak mungkin manusia itu tidak bertuhan.

Faham atheisme adalah omong kosong, tidak logis, dan tidak masuk 'akal. Menurut logika al-Qur'an: setiap orang mesti bertuhan. Alternatip yang mungkin ialah bertuhan satu (monotheist) atau bertuhan banyak (polytheist = bcrluhan lebih dari satu). Oleh karena itu, perkataan "ilah" di dalam al-Qur'an juga dipakai dalam bentuk tunggal (mufrad: ilaahun), ganda (muthanna: ilaahaini), dan banyak (jama': aalihatun). Bertuhan nol atau atheisme tidak mungkin. Untuk dapat mengerti dengan tuntas akan masalah ini dapatlah kita buat definisi "tuhan" atau "ilah" yang tepat, berdasarkan logika al-Qur'an sebagai berikut:
Tuhan (ilah) ialah sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh manusia sedemikian rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai (didominir) olehnya (sesuatu itu).

Perkataan "dipentingkan" hendaklah diartikan secara luas. Tercakup di dalamnya yang dipuja, dicintai,
diagungkan, diharap-harapkan dapat memberikan kemaslahatan atau kegembiraan, dan termasuk pula
sesuatu yang ditakuti akan mendatangkan bahaya atau kerugian. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memberikan definisi al ilah sebagai berikut:
Al-ilah ialah: yang dipuja dengan penuh kecintaan hati; tunduk kepadanya, merendahkan diri di
hadapannya, takut dan mengharapkannya, kepadanya tempat berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdo'a dan bertawakkal kepadanya untuk kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari padanya, dan menimbulkan ketenangan di saat mengingatnya dan terpaut cinta kepadanya. (Dr. Yusuf Qardawi: "Tauhid dan Fenomena Kemusyrikan, (Haqiqat Al-Tauhid) terjemahan H. Abd. Rahim Haris, Pustaka Darul Hikmah, Bima, hal. 26 - 27).

Berdasarkan definisi ini dapatlah difahami, bahwa tuhan itu bisa berbentuk apa saja, yang dipentingkan
oleh manusia. Yang pasti ialah manusia tidak mungkin atheist, tidak mungkin tidak bertuhan. Berdasarkan logika al-Qur'an bagi setiap manusia mesti ada sesuatu yang dipertuhankannya. Dengan demikian, maka orang-orang komunis itu pun pada hakikatnya bertuhan juga. Adapun tuhan mereka ialah ideology atau angan-angan (Utopia) mereka, yaitu terciptanya "masyarakat komunis, di mana setiap orang boleh bekerja menurut kemampuan masing-masing dan mendapatkan penghasilan sesuai dengan kebutuhan masing-masing", sebagai yang dirumuskan dengan jelas oleh pemimpin mereka, Lenin, di dalam manifesto communisme-nya: "From everyone according to his ability, and for everyone according to his need." Ungkapan inilah yang diterjemahkan oleh para pemimpin mendiang PKI (Partai Komunis Indonesia) dahulu dengan slogan: "sama rata sama rasa". Orang komunis sebenarnya memimpikan terciptanya suatu masyarakat bertata ekononii yang "adil sempurna".

Impian seperti ini tiada bedanya dengan impian setiap orang Kristen yang taat akan apa yang mereka namakan "Kerajaan Allah" atau "Kingdom of God". Oleh karena itu, Toynbee pernah mengatakan, bahwa komunisme itu tiada lain melainkan kekristenan yang dipalsukan, suatu lembaran sobekan Bible, yang diperlakukan seolah-olah seluruh kitab suci itu, yang kemudian dijadikan senjata untuk menembaki kebudayaan Kristen (Barat). Dalam bahasa Toynbee sendiri:
"You may equally well call Marxism a Christian heresy, a leaf torn out of the book of Christianity and
treated as if it were the whole Gospel. The Russians have taken up this western heretical religion,
transformed it into something of their own, and are now shooting at us. This is the first shot in the
anti-Western counter-offensive ". (Civilization on Trial, p. 221 )
Sebahagian orang ada yang menganggap dirinya sedemikiran pintarnya, sehingga ia merasa tak perlu
bertuhan. Mereka mengatakan, bahwa mereka tidak perlu kepada sesuatu yang tak dapat dibuktikan. Merekapun menolak jika dikatakan atheist. Mereka menamakan diri mereka agnostic. Salah seorang tokoh orang-orang agnostic ini yang terkemuka ialah mendiang Bertrand Russel, ahli falsafah dari Inggris, yang pernah diundang dengan hormatnya untuk memberikan kuliah pada beberapa universitas di Amerika Serikat di awal tahun empat-puluhan. Kuliah-kuliah yang disampaikannya telah sempat menimbulkan kemarahan tokoh-tokoh Kristen Amerika, terutama Bishop Manning dari Gereja Episcopal, karena dianggap "sangat bertentangan dengan agama dan nilai-nilai moral". Memang Russel berpendirian, bahwa "semua agama yang ada didunia ini Budha, Hindu, Kristen, Islam, dan Komunisme " adalah palsu dan berbahaya" ("I think all the great religions of the world --Buddhism, Hinduism, Christianity, Islam, and Communism-- both untrue and harmfull"), karena itu ia menentang semua agama.

Sangat menarik perhatian kita ialah, sama dengan Toynbee, Russel pun menganggap komunisme sebagai
agama. Kalau kita baca bukunya yang terkenal: "Why I Am Not a Christian" (Mengapa Saya Bukan Seorang Kristen), maka dapat kita simpulkan, bahwa ia tokoh bertuhan juga. Russel, pada hakikatnya, telah mempertuhankan 'aqalnya. Selama ia bisa konsisten, sebenarnya masih lumayan, terutama jika dibandingkan dengan orang yang bertuhankan hawa nafsunya. Tetapi, mungkinkah seseorang senantiasa consistent .?

Berdasarkan pengertian "ilah" atau tuhan yang telah diberikan definisinya di atas, maka dapat pula secara logika dibuktikan, bahwa tidak ada manusia yang mampu berfikir logis, yang tidak punya tuhan. Bahkan bisa dibuktikan, bahwa tidak mungkin bagi manusia tidak punya sesuatu kepercayaan. Apabila seseorang mengatakan: "saya tidak percaya kepada sesuatu apa pun," maka ia akan dihadapkan kepada suatu kontradiksi, karena pernyataan tersebut mengandung pembatalan diri. Jika benar ia tak pcrcaya kepada sesuatu apapun, maka kalimat itupun ia harus sangkal kebenarannya. Jika tidak, maka terbukti ia tokh masih punya satu kepercayaan, yaitu kebenaran pernyataan tersebut, maka sikap itu bertentangan pula dengan arti kalimat itu. Jadi kalimat itu tidak logis, dan tidak mungkin terucapkan oleh seseorang yang mampu dan mau berfikir logis.

Salam,
-Pencari Tuhan-

Minggu, 07 November 2010

Untung Ruginya Memilih Tuhan

Tulisan ini bukan untuk mengundang perdebatan dan kontrofersi..hanya untuk sekedar mengungkapkan pemikiran liar saya tentang theis dan atheis..

Ketika sebuah diskusi mencapai titik kebuntuan antara harus percaya Tuhan atau tidak, terdengar jawaban seperti ini:
Theis akan menjawab“Mending percaya aja, toh kalo Tuhan itu gak ada ya gw gak rugi, tapi kalo ada, gw dapet surga"
Smentara Atheis menjawab "kalo gak ada ya gak untung, kalo ada atheist rugi masuk neraka”

Nah, awalnya memang sepintas terlihat bahwa paham atheism itu ruginya ada, untungnya gak ada, tapi masalahnya, emang iya paham theism itu gak ada ruginya?

Ilustrasinya gini:
  • ketika menyikapi masalah Tuhan, manusia dihadapkan pada pilihan, mau percaya Tuhan atau nggak, nah atheist milih nggak, theist milih iya
  • selanjutnya, theist akan memilih lagi, dari semua agama yang ada, agama mana yang mau dianut, mulai dari A sampe Z
  • setelah memilih agama, theist akan kembali dihadapkan pada pilihan, mau memilih aliran mana dari agama2 itu
  • setelah memilih aliran, berikutnya theist akan memilih lagi, implementasi bagaimana yang akan digunakan dalam kehidupannya
  • setelah itu, theist akan memilih lagi bagaimana mereka harus menyikapi isu – isu di luar agamanya seperti politik negara, sosial dengan agama lain atau sains
terus kasusnya tentang Tuhan itu secara garis besar bisa dibilang kemungkinannya:
  1. Tuhan itu gak ada
  2. Tuhan itu ada dan dia gak peduli apa yang manusia lakukan (gak banyak perhitungan, siapapun boleh masuk surga atau siapapun bisa masuk neraka)
  3. Tuhan itu ada, dia peduli sama yang manusia lakukan, tapi dia ketat soal agama-aliran-cara hidup mana yang dia pilih
  4. Tuhan itu ada, dia peduli sama yang manusia lakukan tapi dia gak terlalu ketat sama agama (intinya masih bisa dinego)
untuk masing – masing kemungkinan efeknya adalah:
kasus 1 : Tidak ada Tuhan
atheis hidup santai, theist hidup dengan cara yang sebetulnya gak ada untungnya
kasus 2 : Tuhan yang tidak mengurusi kehidupan manusia
atheis hidup santai, theist hidup dengan cara yang sebetulnya gak ada untungnya karena toh sama2 bakal masuk surga, neraka, atau malah mungkin gak ada afterlife
kasus 3 : Tuhan yang ketat sama agama
 atheist hidup santai, theist hidup dengan cara masing-masing, tapi cuma yang milih agama, aliran dan implementasi yang pas yang dapet untung, sisanya udah cape2 ngikutin ajaran agamanya nasibnya sama aja sama atheist
kasus 4 : Tuhan yang menilai kehidupan manusia tapi fleksibel urusan agama
 atheist hidup santai, theist hidup dengan cara masing-masing, tapi cuma yang milih agama, aliran dan implementasi yang pas yang dapet untung gede, sisanya cape2 ngikutin ajaran agamanya, nasibnya bakal nunggu kompensasi yang sama aja sama atheist
jadi kesimpulannya? :p

Kalau mau main pragmatis dan cari aman, jelas dari ilustrasi di atas bahwa untuk banyak kasus, nasib anda gak akan jauh beda sama yang hidup santai…

Sekali lagi saya tekankan disini, tulisan ini bukan bertujuan untuk menggambarkan enaknya jadi atheist,  justru ingin menuliskan, bahwa pragmatisme dalam kehidupan beragama tidak akan membawa anda ke mana – mana, memenangkan tiket ke surga jauh lebih berharga dibanding masuk ke sekolah impian, perusahaan bergengsi atau jabatan yang bagus… Nah kalau untuk hal – hal itu saja anda berpikir serius, kenapa untuk hal yang satu ini kebanyakan orang justru mendasarinya dengan pragmatisme?

Salam,
Pencari Tuhan